Sabtu, 20 September 2014

Cerpen "Senja di Matamu"



Menjadi seorang gadis yang ceria di umurku saat ini mungkin itu hanya sebuah keinginan belaka. Semua impianku telah hilang semenjak kecelakaan itu menimpaku. Iya, aku mengalami kebutaan. Kecelakaan itu menimpaku sejak 1 tahun yang lalu. Waktu itu, saat aku & kakakku membantu pamanku untuk mengantarkan pesanan guci-guci besar ke para pelanggannya. Aku pun memilih untuk duduk di bak belakang bersama dengan tumpukan guci-guci besar itu. Namun, beliau telah melarangku untuk duduk di belakang bersama tumpukan guci-guci besar itu. Tapi aku tak mau mendengarkan larangannya itu, aku tetap duduk di belakang bersama tumpukan-tumpukan guci itu. Dan berharap suatu saat nanti aku bisa meneruskan usaha pamanku ini.
Hari itu berjalan cukup lambat, pick up yang kami tumpangi untuk sampai di tujuan mengalami kemacetan. Rasanya aku telah terpanggang di bawah panasnya matahari saat itu, tapi demi belajar menjadi wirausahawan seperti pamanku. Aku tak boleh sampai menyerah. Kulihat guci-guci itu, tampak anggun dengan hiasan-hiasannya. Bentuknya, modelnya itu semakin membuatku senang melihatnya. 15 menit kemudian kami lolos dari kemacetan itu. Karena pamanku takut tidak sampai sana tepat waktu, beliau mengendarai pick up-nya itu dengan kencang. Sangat kencang. Sampai-sampai mobil yang melaju dari arah yang berlawanan kehilangan kendali dan langsung menghantam pick up-nya pamanku. Seketika itu juga, tumpukan guci-guci itu jatuh dan menimpaku. Aku tak tahan menahan diriku lebih lama lagi. Saat itu juga, aku pun pingsan di antara tumpukan-tumpukan guci yang pecah belah itu. Aku tak tahu bagaimana kondisi kakakku & pamanku.
Aku tak sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu. Berbeda dengan paman & kakakku, mereka tak sadarkan diri selama 2 hari. Dibandingkan dengan kondisi mereka, kondisiku jauh lebih parah. Saat aku mulai siuman, aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan karena saat itu mataku diperban. Saat mataku mulai terbuka, aku tak dapat melihat apa-apa di sekelilingku. Bahkan aku hanya bisa mendengar suara mamaku yang berada di sampingku. “Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tak dapat melihat apapun disini?” kataku saat itu juga. Mendengar pertanyaanku, mamaku hanya diam. Tak satupun orang yang menjawab pertanyaanku itu. Aku hanya bisa mendengar isak tangis mereka. Kenapa? Kenapa mereka menangisiku seperti itu? “Keadaan kakak & paman gimana, ma? Apa mereka sudah siuman?”
“Kondisi mereka saat ini sudah membaik, nak. Kamu yang tabah ya, nak. Kamu..kamu mengalami kebutaan.” jawab mamaku seketika itu juga sambil menangis. Apa? aku buta? Apa aku tak salah dengar? Cobaan apa yang telah Engkau berikan padaku, Ya Allah? Aku..aku belum siap untuk menerima semua ini. Aku buta..aku buta.
“Ini semua nggak adil buatku, ma. Kenapa kondisiku lebih parah dari kakakku? Kenapa..kenapa kakak hanya mengalami cedera di kepalanya? Tapi kenapa aku yang mengalami kebutaan ini, ma? Kenapa?” aku tak bisa menahan air mataku ini. Kubiarkan air mata ini menetes. Membanjiri pipiku, aku masih tidak percaya akan semua kejadian yang telah menimpaku dengan cepat kali ini. Aku..aku merasa iri dengan kondisi kakakku. Selama ini, aku dilahirkan dengan kondisi yang normal. Penglihatanku juga normal, namun kenapa takdir berkata lain? Aku mengalami kebutaan saat aku mulai belajar berwirausaha dengan pamanku.
“Tumpukan guci-guci itu menimpamu, & mengenai matamu. Celia..kalau kamu waktu itu tidak memaksa untuk duduk dibelakang dengan tumpukan guci-guci itu. Mungkin kamu nggak akan mengalami kondisi yang seperti ini.” ucap kakakku.
“Jangan salahkan aku kak! Takdir yang salah, kenapa Tuhan memberiku takdir seperti ini? Apa mungkin, Tuhan sudah tak sayang aku? Apa salahku, kak? Aku..aku iri dengan kondisimu kak. Kenapa kamu juga tak mengalami kebutaan seperti aku?” aku tak bisa menahan emosiku saat itu, rasanya aku ingin marah pada semua orang. Ini benar-benar tak adil buatku. Takdir yang telah membuatku seperti ini, takdir yang salah! Takdir yang salah!
Hari demi hari berlalu. Kondisiku sudah mulai membaik. 2 hari yang lalu, aku diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya bisa kembali ke rumah. Tapi kali ini, aku sudah tak bisa melihat rumahku lagi. Bahkan aku pun tak bisa bermain dengan snappy-kucing peliharaanku- lagi. Kini, hanya tongkatku yang selalu setia menemaniku kemanapun. Hanya dengan tongkat ini lah, aku bisa berjalan dengan baik meskipun penglihatanku sudah tidak berfungsi lagi.
Semenjak kejadian itu di rumah sakit, aku tidak berbicara sepatah kata pun dengan kakakku. Saat ia mendekatiku & mencoba untuk memulai pembicaraan denganku. Aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Aku pun tak mengerti akan kata hatiku saat itu. Aku tau yang aku lakukan saat itu sangat menyakiti kakakku. Namun, kali ini aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Iyaa, benar-benar sendiri.
---
“Celia..ikut aku ya? Aku lihat kamu akhir-akhir ini, kamu sering sekali melamun di pinggir kolam. Aku akan mengajakmu ke tempat yang begitu indah. Kamu pasti akan menyukainya.” tiba-tiba suara itu terdengar di telingaku. Iya, itu suara kakakku. Aku hanya tersenyum saat ia mengajakku pergi ke suatu tempat.  Meskipun aku sudah tak bisa melihat lagi. Aku masih mengingat suara kakakku. Suara yang begitu gagah itu. Aku masih ingat semua kenangan-kenangan dulu bersama kakakku. Meskipun aku menjauh darinya selama beberapa hari ini, namun ia tetap berusaha untuk membuatku senang. Baginya, kesedihanku adalah penderitaan untuknya. Jadi ia tak mau membuatku bersedih lagi. Aku baru sadar kalau selama ini aku hanya bisa merepotkan kakakku. Kakak kesayanganku yang selalu merawatku.
Sesampainya di sana, kakakku mengajakku duduk di suatu tempat. “Kak, kita mau kemana?” tanyaku saat itu. “Aku mau mengajakmu duduk-duduk di pinggir danau sana. Aku mau melihat senja bersamamu, adikku sayang.” Mendengar perkataan kakakku barusan, membuatku terharu. Selama ini kakakku begitu menyayangiku tapi aku pun tak sadar akan hal itu. Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat itu. Memiliki kakak yang begitu menyayangiku & begitu perhatian padaku adalah salah satu hal yang paling menyenangkan buatku. Rasanya aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini yang memiliki kak Vano sebagai kakakku.
“Kita duduk disini ya, cel. Asalkan kamu tau, pemandangan disini indah banget. Aku yakin kamu bisa merasakan damainya tempat ini waktu sore hari apalagi di waktu senja.” Aku tersenyum saat mendengar perkataan kakakku. Berada disampingnya kali ini, membuatku nyaman.
“Aku tau, kamu masih belum bisa menerima kondisimu saat ini. Tapi percayalah padaku, aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu berada disampingmu. Bahkan, aku bisa menjadi mata keduamu saat ini. Asalkan kamu tau, aku nggak mau kehilanganmu lagi semenjak kecelakaan itu. Bagiku, memiliki adik sepertimu sudah cukup dalam hidupku.” Perkataan kakakku itu membuatku tak dapat menahan tetesan air mata. Aku nggak nyangka kalau ia benar-benar menyayangiku. Namun apa yang telah aku lakukan padanya selama ini? Kakak..maafin aku. Begitu bodohnya aku hingga aku tak bisa merasakan kasih sayangmu selama ini padaku.
“Celia..kok malah nangis? Ada apa?” tanyanya sambil mengusap air mataku yang jatuh. Seketika itu ia memegang pipiku, ia meyakinkan aku untuk tidak menangis lagi. “Aku minta maaf kak, selama ini hatiku salah menilai kakak. Takdirku memang menjadi gadis buta. Tapi aku malah menyalahkan kakak. Aku bodoh ya kak. Benar-benar bodoh.” jawabku. “Cel, kamu nggak salah. Kakak tau, emosi-lah yang membuat kondisi hatimu seperti itu. Aku yakin, dibalik hatimu itu pasti ada secuil kebaikan dari dalam dirimu.”
Hari ini adalah hari yang terindah bagiku. Saat kau ajak aku pergi melihat senja di pinggir danau & merasakan hangatnya senja saat itu. Aku percaya padamu. Meskipun sekarang aku tak dapat melihat lagi secara normal. Tapi aku tak takut lagi akan kegelapan. Melainkan aku sangat senang karena kau mau menjadi mata kedua-ku. Kasihmu, perhatianmu padaku membuatku bangga memilikimu, sebagai kakak.
Di danau ini, aku bisa merasakan damainya keadaan disekitarku. Aku merasa damai disini apalagi ditemani kakak kesayanganku. Ia duduk disampingku, menemaniku menikmati hangatnya senja sore ini. Saat aku memegang tangannya, aku bisa merasakan indahnya senja saat itu. Waktu itu..benar-benar tak bisa kulupakan bagiku.


Written by: @GeofanyPramesti

0 komentar: