Menjadi seorang gadis yang ceria di umurku saat ini
mungkin itu hanya sebuah keinginan belaka. Semua impianku telah hilang semenjak
kecelakaan itu menimpaku. Iya, aku mengalami kebutaan. Kecelakaan itu menimpaku
sejak 1 tahun yang lalu. Waktu itu, saat aku & kakakku membantu pamanku
untuk mengantarkan pesanan guci-guci besar ke para pelanggannya. Aku pun
memilih untuk duduk di bak belakang bersama dengan tumpukan guci-guci besar
itu. Namun, beliau telah melarangku untuk duduk di belakang bersama tumpukan guci-guci
besar itu. Tapi aku tak mau mendengarkan larangannya itu, aku tetap duduk di
belakang bersama tumpukan-tumpukan guci itu. Dan berharap suatu saat nanti aku
bisa meneruskan usaha pamanku ini.
Hari itu berjalan cukup lambat, pick up yang kami
tumpangi untuk sampai di tujuan mengalami kemacetan. Rasanya aku telah
terpanggang di bawah panasnya matahari saat itu, tapi demi belajar menjadi
wirausahawan seperti pamanku. Aku tak boleh sampai menyerah. Kulihat guci-guci
itu, tampak anggun dengan hiasan-hiasannya. Bentuknya, modelnya itu semakin
membuatku senang melihatnya. 15 menit kemudian kami lolos dari kemacetan itu.
Karena pamanku takut tidak sampai sana tepat waktu, beliau mengendarai pick
up-nya itu dengan kencang. Sangat kencang. Sampai-sampai mobil yang melaju dari
arah yang berlawanan kehilangan kendali dan langsung menghantam pick up-nya
pamanku. Seketika itu juga, tumpukan guci-guci itu jatuh dan menimpaku. Aku tak
tahan menahan diriku lebih lama lagi. Saat itu juga, aku pun pingsan di antara
tumpukan-tumpukan guci yang pecah belah itu. Aku tak tahu bagaimana kondisi
kakakku & pamanku.
Aku tak sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu.
Berbeda dengan paman & kakakku, mereka tak sadarkan diri selama 2 hari. Dibandingkan
dengan kondisi mereka, kondisiku jauh lebih parah. Saat aku mulai siuman, aku
mencoba membuka mataku perlahan-lahan karena saat itu mataku diperban. Saat
mataku mulai terbuka, aku tak dapat melihat apa-apa di sekelilingku. Bahkan aku
hanya bisa mendengar suara mamaku yang berada di sampingku. “Ma, apa yang
terjadi padaku? Kenapa aku tak dapat melihat apapun disini?” kataku saat itu
juga. Mendengar pertanyaanku, mamaku hanya diam. Tak satupun orang yang
menjawab pertanyaanku itu. Aku hanya bisa mendengar isak tangis mereka. Kenapa?
Kenapa mereka menangisiku seperti itu? “Keadaan kakak & paman gimana, ma?
Apa mereka sudah siuman?”
“Kondisi mereka saat ini sudah membaik, nak. Kamu yang
tabah ya, nak. Kamu..kamu mengalami kebutaan.” jawab mamaku seketika itu juga
sambil menangis. Apa? aku buta? Apa aku tak salah dengar? Cobaan apa yang telah
Engkau berikan padaku, Ya Allah? Aku..aku belum siap untuk menerima semua ini.
Aku buta..aku buta.
“Ini semua nggak adil buatku, ma. Kenapa kondisiku
lebih parah dari kakakku? Kenapa..kenapa kakak hanya mengalami cedera di
kepalanya? Tapi kenapa aku yang mengalami kebutaan ini, ma? Kenapa?” aku tak
bisa menahan air mataku ini. Kubiarkan air mata ini menetes. Membanjiri pipiku,
aku masih tidak percaya akan semua kejadian yang telah menimpaku dengan cepat
kali ini. Aku..aku merasa iri dengan kondisi kakakku. Selama ini, aku
dilahirkan dengan kondisi yang normal. Penglihatanku juga normal, namun kenapa
takdir berkata lain? Aku mengalami kebutaan saat aku mulai belajar berwirausaha
dengan pamanku.
“Tumpukan guci-guci itu menimpamu, & mengenai
matamu. Celia..kalau kamu waktu itu tidak memaksa untuk duduk dibelakang dengan
tumpukan guci-guci itu. Mungkin kamu nggak akan mengalami kondisi yang seperti
ini.” ucap kakakku.
“Jangan salahkan aku kak! Takdir yang salah, kenapa
Tuhan memberiku takdir seperti ini? Apa mungkin, Tuhan sudah tak sayang aku?
Apa salahku, kak? Aku..aku iri dengan kondisimu kak. Kenapa kamu juga tak mengalami
kebutaan seperti aku?” aku tak bisa menahan emosiku saat itu, rasanya aku ingin
marah pada semua orang. Ini benar-benar tak adil buatku. Takdir yang telah
membuatku seperti ini, takdir yang salah! Takdir yang salah!
Hari demi hari berlalu. Kondisiku sudah mulai membaik.
2 hari yang lalu, aku diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya bisa kembali
ke rumah. Tapi kali ini, aku sudah tak bisa melihat rumahku lagi. Bahkan aku
pun tak bisa bermain dengan snappy-kucing
peliharaanku- lagi. Kini, hanya tongkatku yang selalu setia menemaniku
kemanapun. Hanya dengan tongkat ini lah, aku bisa berjalan dengan baik meskipun
penglihatanku sudah tidak berfungsi lagi.
Semenjak kejadian itu di rumah sakit, aku tidak
berbicara sepatah kata pun dengan kakakku. Saat ia mendekatiku & mencoba
untuk memulai pembicaraan denganku. Aku memilih untuk pergi meninggalkannya.
Aku pun tak mengerti akan kata hatiku saat itu. Aku tau yang aku lakukan saat
itu sangat menyakiti kakakku. Namun, kali ini aku hanya butuh waktu untuk
sendiri. Iyaa, benar-benar sendiri.
---
“Celia..ikut aku ya? Aku lihat kamu akhir-akhir ini,
kamu sering sekali melamun di pinggir kolam. Aku akan mengajakmu ke tempat yang
begitu indah. Kamu pasti akan menyukainya.” tiba-tiba suara itu terdengar di
telingaku. Iya, itu suara kakakku. Aku hanya tersenyum saat ia mengajakku pergi
ke suatu tempat. Meskipun aku sudah tak
bisa melihat lagi. Aku masih mengingat suara kakakku. Suara yang begitu gagah
itu. Aku masih ingat semua kenangan-kenangan dulu bersama kakakku. Meskipun aku
menjauh darinya selama beberapa hari ini, namun ia tetap berusaha untuk membuatku
senang. Baginya, kesedihanku adalah penderitaan untuknya. Jadi ia tak mau
membuatku bersedih lagi. Aku baru sadar kalau selama ini aku hanya bisa
merepotkan kakakku. Kakak kesayanganku yang selalu merawatku.
Sesampainya di sana, kakakku mengajakku duduk di suatu
tempat. “Kak, kita mau kemana?” tanyaku saat itu. “Aku mau mengajakmu
duduk-duduk di pinggir danau sana. Aku mau melihat senja bersamamu, adikku
sayang.” Mendengar perkataan kakakku barusan, membuatku terharu. Selama ini
kakakku begitu menyayangiku tapi aku pun tak sadar akan hal itu. Aku hanya bisa
tersenyum bahagia saat itu. Memiliki kakak yang begitu menyayangiku &
begitu perhatian padaku adalah salah satu hal yang paling menyenangkan buatku.
Rasanya aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini yang memiliki kak
Vano sebagai kakakku.
“Kita duduk disini ya, cel. Asalkan kamu tau,
pemandangan disini indah banget. Aku yakin kamu bisa merasakan damainya tempat
ini waktu sore hari apalagi di waktu senja.” Aku tersenyum saat mendengar perkataan
kakakku. Berada disampingnya kali ini, membuatku nyaman.
“Aku tau, kamu masih belum bisa menerima kondisimu saat
ini. Tapi percayalah padaku, aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu berada
disampingmu. Bahkan, aku bisa menjadi mata keduamu saat ini. Asalkan kamu tau,
aku nggak mau kehilanganmu lagi semenjak kecelakaan itu. Bagiku, memiliki adik
sepertimu sudah cukup dalam hidupku.” Perkataan kakakku itu membuatku tak dapat
menahan tetesan air mata. Aku nggak nyangka kalau ia benar-benar menyayangiku.
Namun apa yang telah aku lakukan padanya selama ini? Kakak..maafin aku. Begitu bodohnya
aku hingga aku tak bisa merasakan kasih sayangmu selama ini padaku.
“Celia..kok malah nangis? Ada apa?” tanyanya sambil
mengusap air mataku yang jatuh. Seketika itu ia memegang pipiku, ia meyakinkan
aku untuk tidak menangis lagi. “Aku minta maaf kak, selama ini hatiku salah
menilai kakak. Takdirku memang menjadi gadis buta. Tapi aku malah menyalahkan
kakak. Aku bodoh ya kak. Benar-benar bodoh.” jawabku. “Cel, kamu nggak salah.
Kakak tau, emosi-lah yang membuat kondisi hatimu seperti itu. Aku yakin,
dibalik hatimu itu pasti ada secuil kebaikan dari dalam dirimu.”
Hari ini adalah hari yang terindah bagiku. Saat kau
ajak aku pergi melihat senja di pinggir danau & merasakan hangatnya senja
saat itu. Aku percaya padamu. Meskipun sekarang aku tak dapat melihat lagi
secara normal. Tapi aku tak takut lagi akan kegelapan. Melainkan aku sangat
senang karena kau mau menjadi mata kedua-ku. Kasihmu, perhatianmu padaku
membuatku bangga memilikimu, sebagai kakak.
Di danau ini, aku bisa merasakan damainya keadaan
disekitarku. Aku merasa damai disini apalagi ditemani kakak kesayanganku. Ia
duduk disampingku, menemaniku menikmati hangatnya senja sore ini. Saat aku
memegang tangannya, aku bisa merasakan indahnya senja saat itu. Waktu
itu..benar-benar tak bisa kulupakan bagiku.
Written by: @GeofanyPramesti








0 komentar:
Posting Komentar