Kamis, 25 September 2014

About Macro Excel


MACRO EXCEL
Macro adalah sederetan fungsi dan perintah program yang disimpan dalam menu Visual Basic. Microsoft Excel menyediakan fitur untuk merekam aktivitas yang dilakukan oleh penggunanya melalui tools -> macro -> record new macro. Record new macro berguna untuk merekam aktivitas yang dilakukan dan merubahnya menjadi baris-baris program.
Namun macro juga dapat digunakan oleh user untuk membuat perintah atau procedure melalu bahasa VBA atau Visual Basic for Application yang cukup populer, sederhana dan mudah untuk dipelajari. Semakin besar pemahaman anda tentang bahasa VBA maka semakin banyak dan canggih pula prosedur atau perintah-perintah yang dapat anda buat untuk memudahkan perkerjaan anda dengan Microsoft Excel. Contoh sederhana dari fungsi atau kegunaan macro adalah apabila anda melakukan pekerjaan yang banyak tapi monoton. Dari pada anda membuang-buang waktu dengan mengerjakan pekerjaan yang monoton secara manul, kenapa anda tidak merekamnya saja dengan macro kemudian melakukan sedikit modifikasi. Pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan berjam-jam dapat selesai hanya dengan sekali klik. Contoh lain adalah apabila anda ingin membuat fungsi yang belum tersedia pada fungsi standard yang disediakan oleh excel, maka anda dapat membuat fungsi yang anda inginkan melalui Macro berupa User Defined Function (UDF).
Untuk dapat menggunakan macro, anda harus terlebih dahulu melakukan setting terhadap macro security level pada Microsoft Excel anda. Caranya adalah melalui tools -> macro -> security lalu set security level pada level Medium. Jangan gunakan low apabila anda sering menerima file dalam bentuk excel karena kemungkinan anda mendapat file excel yang mengandung virus macro menjadi sangat tinggi.
Dengan level medium anda dapat menentukan apakah anda akan meng-Enable atau Disable macro yang terdapat pada file excel yang akan anda buka. Namun jika macro security level anda di set pada level Low maka anda tidak akan mendapat pemberitahuan bahwa file yang akan anda buka berisi macro atau tidak.







CARA MENJALANKAN MACRO

Cara menjalankan Macro adalah dengan cara:
- Dari menu bar Visual Basic Editor (VBE) dengan mengklik [Run] - [Run Sub/UserForm F5]
- Dari menu bar Visual Basic Editor (VBE) dengan menekan tombol F8 beberapa kali untuk Melihat Macro Bekerja Step by Step atau line demi line
                                 

Kedua cara di atas adalah melalui Visual Basic Editor. Tentu saja ini agak riskan jika pemakai Macro anda harus selalu masuk ke VBE. Karena bisa jadi Macro yang anda buat, secara sengaja ataupun tidak sengaja bisa "tersentuh" dan berubah yang mengakibatkan kesalahan pada program.
Menjalankan Event pada Macro yang paling banyak digunakan adalah melalui Tombol (Button) Tombol ini umumnya di tempatkan pada Worksheet dan UserForm. Untuk menjalankan Event cukup hanya dengan mengklik tombol ini

Note
Event adalah :
Kejadian yang timbul akibat prosedur VBA (Macro) dijalankan, adapun contoh Event adalah Menghapus range, Membuka file,Mengcopy range, Mengcopy sel dll. Kembali ke awal tadi, bagaimana menjalankan Macro selain 2 cara yang di atas tadi? Pertama- tama siapkan sebuah kode sebagai bahan untuk latihan, kodenya adalah sbb:
Sub Latihan()

Range("A1").Value = 10
Range("A2").Value = 15
Range("A3").Formula = "=A1+A2"

Range("A1").Select

End Sub

CARA 1
- Dari menu bar Sheet1 Excel klik [Tools] - [Macro] - [Macros]
- Akan muncul seperti Gambar 1 berikut






- Lalu klik tombol Run, maka Macro akan dieksekusi yaitu muncul angka pada selA1=10,A2=15 dan A3=25

CARA 2
- Hapus angka terdapat pada SeL A1,A2 dan A3
- Dari menu bar Sheet1 Excel klik [Tools] - [Macro] - [Macros]
- Perhatikan Gambar 1 lalu klik tombol Options
- Lalu akan muncul gambar berikut



- Pada kotak Ctrl+Shift ketikkan huruf S besar lalu klik OK.
- Sekarang tekan Ctrl+Shift+S bersamaan, maka Macro akan dieksekusi

Bagaimana mengaktifkan fungsi macro di excel 2010?  Pertanyaan ini pasti akan muncul ketika kita baru pertama kali menjalankan file yang berisi kode macro atau pertama kali kita belajar macro.
Langkah pertama, buka file excel yang ada di dalam kumpulan program komputer, kemudian bagian atas ada beberapa menu seperti File, Home, Insert dan seterusnya. Klik menu FILE tersebut, kemudian di bawah menu yang tampil tersebut, di bagian bawah akan ada teks Options, seperti yang ditunjukan pada gambar di samping ini. Tunggu beberapa saat akan tampil windows baru. Ikuti langkah selanjutnya.




Kemudian klik menu Trust Center, seperti yang ditunjukkan pada gambar di samping ini.




Setelah itu klik tombol Trust center settings seperti yang ditunjukkan pada gambar di samping.

 
Di sidebar sebelah kiri, ada menu Macro Setting pastikan pilih setting keempat,Enable all macro (not recommended; potentially dangerous code can run). Di bagian bawahnya juga aktifkan Developer Macro Settings, kemudian check list pilihan Trust access to the VBA project object model.

Sampai langkah ini, kita sudah dapat mulai membuat prosedur macro atau mencoba code macro yang ada di blog ini. Macro yang kita buat ini, nantinya dapat digunakan melalu bahasa VBA atau Visual Basic. Eits, jangan ciut dulu denger bahasa pemograman. Nanti akan saya coba dengan tahapan yang sederhana dan mudah untuk dipelajari. Semakin besar pemahaman anda tentang bahasa VBA maka semakin banyak dan canggih pula prosedur atau perintah-perintah fungsi excel macro yang dapat anda buat untuk memudahkan perkerjaan anda dengan Microsoft Excel.




























Sabtu, 20 September 2014

Cerpen "Senja di Matamu"



Menjadi seorang gadis yang ceria di umurku saat ini mungkin itu hanya sebuah keinginan belaka. Semua impianku telah hilang semenjak kecelakaan itu menimpaku. Iya, aku mengalami kebutaan. Kecelakaan itu menimpaku sejak 1 tahun yang lalu. Waktu itu, saat aku & kakakku membantu pamanku untuk mengantarkan pesanan guci-guci besar ke para pelanggannya. Aku pun memilih untuk duduk di bak belakang bersama dengan tumpukan guci-guci besar itu. Namun, beliau telah melarangku untuk duduk di belakang bersama tumpukan guci-guci besar itu. Tapi aku tak mau mendengarkan larangannya itu, aku tetap duduk di belakang bersama tumpukan-tumpukan guci itu. Dan berharap suatu saat nanti aku bisa meneruskan usaha pamanku ini.
Hari itu berjalan cukup lambat, pick up yang kami tumpangi untuk sampai di tujuan mengalami kemacetan. Rasanya aku telah terpanggang di bawah panasnya matahari saat itu, tapi demi belajar menjadi wirausahawan seperti pamanku. Aku tak boleh sampai menyerah. Kulihat guci-guci itu, tampak anggun dengan hiasan-hiasannya. Bentuknya, modelnya itu semakin membuatku senang melihatnya. 15 menit kemudian kami lolos dari kemacetan itu. Karena pamanku takut tidak sampai sana tepat waktu, beliau mengendarai pick up-nya itu dengan kencang. Sangat kencang. Sampai-sampai mobil yang melaju dari arah yang berlawanan kehilangan kendali dan langsung menghantam pick up-nya pamanku. Seketika itu juga, tumpukan guci-guci itu jatuh dan menimpaku. Aku tak tahan menahan diriku lebih lama lagi. Saat itu juga, aku pun pingsan di antara tumpukan-tumpukan guci yang pecah belah itu. Aku tak tahu bagaimana kondisi kakakku & pamanku.
Aku tak sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu. Berbeda dengan paman & kakakku, mereka tak sadarkan diri selama 2 hari. Dibandingkan dengan kondisi mereka, kondisiku jauh lebih parah. Saat aku mulai siuman, aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan karena saat itu mataku diperban. Saat mataku mulai terbuka, aku tak dapat melihat apa-apa di sekelilingku. Bahkan aku hanya bisa mendengar suara mamaku yang berada di sampingku. “Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tak dapat melihat apapun disini?” kataku saat itu juga. Mendengar pertanyaanku, mamaku hanya diam. Tak satupun orang yang menjawab pertanyaanku itu. Aku hanya bisa mendengar isak tangis mereka. Kenapa? Kenapa mereka menangisiku seperti itu? “Keadaan kakak & paman gimana, ma? Apa mereka sudah siuman?”
“Kondisi mereka saat ini sudah membaik, nak. Kamu yang tabah ya, nak. Kamu..kamu mengalami kebutaan.” jawab mamaku seketika itu juga sambil menangis. Apa? aku buta? Apa aku tak salah dengar? Cobaan apa yang telah Engkau berikan padaku, Ya Allah? Aku..aku belum siap untuk menerima semua ini. Aku buta..aku buta.
“Ini semua nggak adil buatku, ma. Kenapa kondisiku lebih parah dari kakakku? Kenapa..kenapa kakak hanya mengalami cedera di kepalanya? Tapi kenapa aku yang mengalami kebutaan ini, ma? Kenapa?” aku tak bisa menahan air mataku ini. Kubiarkan air mata ini menetes. Membanjiri pipiku, aku masih tidak percaya akan semua kejadian yang telah menimpaku dengan cepat kali ini. Aku..aku merasa iri dengan kondisi kakakku. Selama ini, aku dilahirkan dengan kondisi yang normal. Penglihatanku juga normal, namun kenapa takdir berkata lain? Aku mengalami kebutaan saat aku mulai belajar berwirausaha dengan pamanku.
“Tumpukan guci-guci itu menimpamu, & mengenai matamu. Celia..kalau kamu waktu itu tidak memaksa untuk duduk dibelakang dengan tumpukan guci-guci itu. Mungkin kamu nggak akan mengalami kondisi yang seperti ini.” ucap kakakku.
“Jangan salahkan aku kak! Takdir yang salah, kenapa Tuhan memberiku takdir seperti ini? Apa mungkin, Tuhan sudah tak sayang aku? Apa salahku, kak? Aku..aku iri dengan kondisimu kak. Kenapa kamu juga tak mengalami kebutaan seperti aku?” aku tak bisa menahan emosiku saat itu, rasanya aku ingin marah pada semua orang. Ini benar-benar tak adil buatku. Takdir yang telah membuatku seperti ini, takdir yang salah! Takdir yang salah!
Hari demi hari berlalu. Kondisiku sudah mulai membaik. 2 hari yang lalu, aku diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya bisa kembali ke rumah. Tapi kali ini, aku sudah tak bisa melihat rumahku lagi. Bahkan aku pun tak bisa bermain dengan snappy-kucing peliharaanku- lagi. Kini, hanya tongkatku yang selalu setia menemaniku kemanapun. Hanya dengan tongkat ini lah, aku bisa berjalan dengan baik meskipun penglihatanku sudah tidak berfungsi lagi.
Semenjak kejadian itu di rumah sakit, aku tidak berbicara sepatah kata pun dengan kakakku. Saat ia mendekatiku & mencoba untuk memulai pembicaraan denganku. Aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Aku pun tak mengerti akan kata hatiku saat itu. Aku tau yang aku lakukan saat itu sangat menyakiti kakakku. Namun, kali ini aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Iyaa, benar-benar sendiri.
---
“Celia..ikut aku ya? Aku lihat kamu akhir-akhir ini, kamu sering sekali melamun di pinggir kolam. Aku akan mengajakmu ke tempat yang begitu indah. Kamu pasti akan menyukainya.” tiba-tiba suara itu terdengar di telingaku. Iya, itu suara kakakku. Aku hanya tersenyum saat ia mengajakku pergi ke suatu tempat.  Meskipun aku sudah tak bisa melihat lagi. Aku masih mengingat suara kakakku. Suara yang begitu gagah itu. Aku masih ingat semua kenangan-kenangan dulu bersama kakakku. Meskipun aku menjauh darinya selama beberapa hari ini, namun ia tetap berusaha untuk membuatku senang. Baginya, kesedihanku adalah penderitaan untuknya. Jadi ia tak mau membuatku bersedih lagi. Aku baru sadar kalau selama ini aku hanya bisa merepotkan kakakku. Kakak kesayanganku yang selalu merawatku.
Sesampainya di sana, kakakku mengajakku duduk di suatu tempat. “Kak, kita mau kemana?” tanyaku saat itu. “Aku mau mengajakmu duduk-duduk di pinggir danau sana. Aku mau melihat senja bersamamu, adikku sayang.” Mendengar perkataan kakakku barusan, membuatku terharu. Selama ini kakakku begitu menyayangiku tapi aku pun tak sadar akan hal itu. Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat itu. Memiliki kakak yang begitu menyayangiku & begitu perhatian padaku adalah salah satu hal yang paling menyenangkan buatku. Rasanya aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini yang memiliki kak Vano sebagai kakakku.
“Kita duduk disini ya, cel. Asalkan kamu tau, pemandangan disini indah banget. Aku yakin kamu bisa merasakan damainya tempat ini waktu sore hari apalagi di waktu senja.” Aku tersenyum saat mendengar perkataan kakakku. Berada disampingnya kali ini, membuatku nyaman.
“Aku tau, kamu masih belum bisa menerima kondisimu saat ini. Tapi percayalah padaku, aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu berada disampingmu. Bahkan, aku bisa menjadi mata keduamu saat ini. Asalkan kamu tau, aku nggak mau kehilanganmu lagi semenjak kecelakaan itu. Bagiku, memiliki adik sepertimu sudah cukup dalam hidupku.” Perkataan kakakku itu membuatku tak dapat menahan tetesan air mata. Aku nggak nyangka kalau ia benar-benar menyayangiku. Namun apa yang telah aku lakukan padanya selama ini? Kakak..maafin aku. Begitu bodohnya aku hingga aku tak bisa merasakan kasih sayangmu selama ini padaku.
“Celia..kok malah nangis? Ada apa?” tanyanya sambil mengusap air mataku yang jatuh. Seketika itu ia memegang pipiku, ia meyakinkan aku untuk tidak menangis lagi. “Aku minta maaf kak, selama ini hatiku salah menilai kakak. Takdirku memang menjadi gadis buta. Tapi aku malah menyalahkan kakak. Aku bodoh ya kak. Benar-benar bodoh.” jawabku. “Cel, kamu nggak salah. Kakak tau, emosi-lah yang membuat kondisi hatimu seperti itu. Aku yakin, dibalik hatimu itu pasti ada secuil kebaikan dari dalam dirimu.”
Hari ini adalah hari yang terindah bagiku. Saat kau ajak aku pergi melihat senja di pinggir danau & merasakan hangatnya senja saat itu. Aku percaya padamu. Meskipun sekarang aku tak dapat melihat lagi secara normal. Tapi aku tak takut lagi akan kegelapan. Melainkan aku sangat senang karena kau mau menjadi mata kedua-ku. Kasihmu, perhatianmu padaku membuatku bangga memilikimu, sebagai kakak.
Di danau ini, aku bisa merasakan damainya keadaan disekitarku. Aku merasa damai disini apalagi ditemani kakak kesayanganku. Ia duduk disampingku, menemaniku menikmati hangatnya senja sore ini. Saat aku memegang tangannya, aku bisa merasakan indahnya senja saat itu. Waktu itu..benar-benar tak bisa kulupakan bagiku.


Written by: @GeofanyPramesti

Kamis, 18 September 2014

Cerpen "Will You Remember Me?"



Mentari pagi tersenyum padaku, hari ini sungguh cerah sekali. Tak ada awan mendung yang menutupi langkah-langkahku pagi ini, yang ada hanyalah matahari pagi yang bersinar sepanjang hari. Kenalin aku Fania Salsabila, teman-temanku biasanya manggil aku Fani. Hari ini memang hari libur tapi tidak denganku, kuawali kegiatan hari Minggu ini dengan mengikuti les dance. Kutengok jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 8.15.. Tak terasa aku sudah lama berjalan selama 10 menit. Memang jarak dari rumah ke tempat les tidak begitu jauh, maka aku memilih untuk berjalan kaki saja. Sesampainya di tempat les, salah satu temanku menghampiriku, Andina namanya.
“Tumben kamu nggak diantar sama kakakmu itu? Padahal kan aku pengen ketemu wajahnya yang unyu itu hahaha..” canda Dina sambil tertawa dan mengajakku masuk ke White Room. White Room adalah tempat kami latihan disini. Ada beberapa tempat yang telah disediakan tapi kami biasanya latihan di White Room.
“Ah kamu bisa aja, kakakku lagi ada keperluan sama teman-temannya. Biasa lah anak teater.” Jawabku sambil tersenyum pada Dina. Sebelum jam lesnya dimulai, kami pun berbincang-bincang dengan teman-teman lainnya, hal apa aja yang bisa aku ceritakan, lebih enak menceritakannya pada teman-temanku. Belum selesai pembicaraan kami, datanglah seorang pelatih baru. Sontak semua anak di White Room kaget akan kehadiran pelatih baru itu.
“Saya pelatih baru disini. Panggil saja kak Bagas. Mari kita latihan.” Kata pelatih baru itu sambil tersenyum. Senyumannya itu sungguh membuat beberapa anak di kelas itu sempat terpana, tak terkecuali denganku. Tak sadar, aku telah lamaa melihatnya, memandangnya sambil senyum-senyum sendiri tapi lama kelamaan aku seperti telah bertemu sebelumnya, entah itu dimana aku pun tidak ingat. Wajahnya yang oval serta matanya yang sedikit sipit membuatku semakin penasaran padanya. Siapakah dia?  Wajahnya yang tak asing itu...Apakah aku pernah bertemu sebelumnya? Sempat memikirkan hal itu sejenak dapat membuatku gila & nggak konsen buat latihan sampai-sampai aku terjatuh & kakiku terkilir. Dengan sigap, kak Bagas langsung menolongku & mencoba untuk menyembuhkan kakiku yang terkilir.
“Auhh, sakit kak.” Rintihku saat kak Bagas mulai mengurut kakiku, meskipun itu rasanya sakit..mungkin rasa sakit itu berkurang karena yang mengobatinya adalah cowok yang bikin aku penasaran padanya. “Kaki kamu terkilir, sebaiknya kamu berhenti latihan dulu.” Katanya sambil memeriksa kakiku. “Tapi kak..aku masih pengen latihan.” Sontak aku memohon padanya, bak bagaikan anak kecil yang merengek minta permen pada ibunya tapi tetap saja, kak Bagas tetap melarangku.
“Jangan memaksakan dirimu untuk ikut latihan, kaki kamu terkilir. Bisa fatal nantinya kalau kamu paksa buat latihan. Kamu istirahat saja disini.” Kata-katanya itu seraya membiusku, suaranya yang lembut & rasa care-nya padaku sempat membuatku ge-er. Pikiranku mulai melayang-layang memikirkan hal itu, apakah mungkin ia? Ah tidak mungkin. Sontak aku menepis rasa angan-anganku itu padanya. Tidak mungkin juga cowok yang baru aja aku kenal langsung suka sama aku.
Keesokan harinya di sekolah...
Keadaan kakiku masih sama seperti kemarin, masih sakit. Jadi untuk jalan pun aku masih sedikit pincang. Siang ini setelah istirahat ke 2, B.Fela menyuruhku untuk mengantarkan hasil ulangan anak kelas 9C. Aku pun langsung membawanya dengan berjalan sedikit pincang. Sesampainya disana, kuketuk pintu kelas 9C yang tertutup itu. Karena tidak ada balasan dari dalam, akhirnya aku memberanikan diri masuk ke kelas itu. Tetapi tidak ada satu pun siswa di dalam kelas itu. Kenapa kelasnya kosong? Pikirku seketika itu, lantas aku pun segera meninggalkan kelas itu. Saat aku hendak membuka pintu kelas, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri & bergerak mengarahku. Dan seketika itu pun aku, “Auuhhh, kepalaku.” Iya aku pun terjatuh seketika & kertas-kertas ulangannya jatuh berserakan.
Saat mendengar suaraku dari dalam, seorang cowok yang membuka pintunya terlalu keras. Ia pun segera menghampiriku & meminta maaf padaku. Saat aku melihat dia, rasanya denyut nadiku mulai kencang. Darahku mengalir deras seperti air terjun yang berada di pegunungan. Cowok itu...sepertinya aku mengenalnya. Dia itu.... “Kamu nggak papa? Aku minta maaf ya aku tadi buka pintunya terlalu keras.” Ucapnya sambil ia membantuku merapikan ulangan itu. Saat ia memberikan beberapa ulangan itu padaku, ia menatapku..lamaa sekali. Sepertinya ia mengenalku. Tapi dimana? Sontak aku membuyarkan lamunanku, aku biarkan mataku memandanginya cukup lama. Iya aku baru sadar kalau cowok itu adalah pelatih baruku di tempat les.
“Kamu...kak Bagas kan? Kok kakak bisa ada disini sih?” tanyaku padanya dengan menyipitkan mataku karena aku sangat penasaran padanya. “Iya, loh kamu anak yang jatuh kemarin ya waktu latihan. Ya iyalah aku disini, aku sekolah disini & ini kelasku.” jawabnya sambil sedikit tertawa karena mengingat kejadian kemarin pas aku jatuh. Aduh, betapa malunya aku. Dia..cowok yang membuat aku penasaran itu ternyata kakak kelasku selama ini. Ampun deh, malunya aku. Kenapa aku bisa nggak tau ya kalau dia itu kakak kelasku. “Hei, kok malah ngelamun?” sambil menggoyang badanku yang membuat aku membuyarkan lamunanku itu. Huhh, kenapa sih aku malah ngelamun disaat-saat seperti ini?
“Maaf ya. Aku tadi nggak tau kalau kamu ada didalam. Semua temen-temenku di lab bahasa jadi kelasnya kosong. Ada perlu apa kesini?” tanyanya sambil tersenyum & kami berdua pun berjalan keluar kelas. Aku langsung memberikan kertas ulangan itu padanya, “Itu titipan dari B. Fela. Aku pergi dulu ya kak.” Entah apa yang membuat aku mengatakan itu padanya. Apa mungkin aku merasa gugup saat dekat dengannya? Ah tidak mungkin. Seketika itu aku pergi meninggalkannya. Saat itu juga ia... “Berhenti!” Hah? Apa aku tidak salah dengar? Ia memanggilku. Aku pun langsung menoleh padanya. “Aku minta maaf ya soal tadi, maaf aku nggak sengaja. Ohya, siapa namamu? Kita kan belum saling kenal.” sambil berjalan mendekatiku & mengulurkan tangannya. Aku pun sempat tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, ”Ehmm, a..aku..aku Fania kak. Anak kelas 8D. Iya..udah aku maafin kok kak. Udah ya kak, aku pergi dulu.” “Tunggu! Aku antar kamu ya? Yaa itung-itung sebagai permintaan maafku ini.”
Kami berdua pun berjalan bersamaan menuju kelasku. Oh My God, hari ini adalah hari yang berharga buatku. Aku yakin, dengan perkenalan ini...aku bisa lebih dekat dengannya. Aku yakin itu. Berulang kali aku tersenyum saat melihatnya, wajahnya itu..sungguh sulit untuk dilupakan dari pikiranku. Apa aku mulai menyukainya?
Sejak hari itu, sejak aku mulai mengenalnya sedikit demi sedikit. Kejadian itu yang membuat aku sama kak Bagas makin akrab. Tiap hari aku sering mengiriminya pesan sekedar untuk berbagi cerita, begitu juga sebaliknya. Rasanya senang sekali. Ia mewarnai hari-hariku dengan candaannya, sikapnya yang ramah pada semua orang terutama padaku. Sungguh, aku sangat tenang saat berada disampingnya. Apakah mungkin aku mulai menyukainya? Hari demi hari berlalu, waktu yang membuat kita semakin dekat.  Namun, kedekatanku selama ini padanya bukan tanpa suatu alasan. Tidak ada hubungan yang terikat diantara kita. Aku bukan pacarnya & ia bukan pacarku. Rasanya hubungan ini merasa gantung. Entah siapa yang menggantungnya. Aku pun tak pernah berpikir buruk padanya. Mungkin selama ini ia tahu kalau aku menyimpan rasa untuknya tapi...kenapa ia  tak tanyakan hal itu padaku? Apa mungkin ia tak menganggapku sebagai orang spesial di hatinya? Rasa penasaranku itu masih terus terbayang di hatiku.
Rasanya ada awan mendung yang menyelimuti hati ini. Dan berharap ada sedikit sinar matahari yang bisa mengusir awan mendung itu dari suasana hatiku. Suasana kelabu yang sedang aku alami saat ini. Aku menunggumu, kak. Menunggu kepastian yang akan kau berikan padaku. Dan...mungkin aku nggak bisa ketemu kamu lagi karena kamu udah mau lulus.
-----
Pagi ini kak Bagas mengajakku ke sebuah labirin taman. Iya sekalian sambil jogging pagi ini. Memang taman ini dibangun dengan konsep labirin mini & taman bunganya jadi menambah keindahan taman tersebut. Tak terasa waktu berjalan sekitar ½ jam. Aku pun mengajaknya beristirahat di tempat duduk di taman itu.
“Aku seneng banget deh kak hari ini, bisa jogging bareng sama kakak. Iyaa mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak.” kataku sambil menatap kak Bagas. Kak Bagas sontak bertanya-tanya apa maksud dari omonganku itu. “Apa maksud kamu, Fania?” mendengar itu...aku pun langsung tersenyum, “Kamu bentar lagi lulus kan kak? Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak. Selebihnya aku nggak tau.”
“Fania, jangan sedih gitu dong. Selama ini...aku sebenernya sayang sama kamu. Jangan khawatir, kita masih bisa berhubungan kok.” mendengar perkataan darinya itu sontak membuat jantungku berdebar kencang, tak terkendali. Apa? Apa aku tak salah dengar? Apa yang ia katakan barusan? Sayang sama aku? Apa benar kalau ia selama ini menyayangiku? Saat itu juga pikiranku sempat melayang kemana-mana memikirkan hal itu. “Aku menyayangimu, Fania. Kamu udah aku nggap sebagai adikku sendiri. Jangan sedih ya.” jawabnya sambil tersenyum padaku. Sebagai adik? Adik katanya? Huhh, aku pikir ia akan menembakku hari ini. Aku pikir selama ini ia menganggapku sebagai orang yang spesial di hatinya. Tapi...ternyata ia cuma menganggapku sebagai adiknya. Perasaanku yang selama ini tumbuh selama berjalannya waktu, rasanya hari ini aku tidak bisa terima oleh takdir. Perasaanku yang tulus ini tidaklah dibalas olehnya. Aku pun segera menepis pikiran negatifku tentang perkataannya. Menjadi seorang adiknya...tidaklah buruk bukan?
“Tapi aku takut kak. Aku takut kehilangan kakak. Aku..aku juga menganggap kamu sebagai kakakku sendiri. Aku takut kalau kedepannya, kakak akan berubah sama aku. Kalau kakak udah SMA, pasti sibuk. Terus bakalan lupain aku.” jawabku. “Iya nggak lupa dek. Aku nggak mungkin lupa sama kamu, Fania. Pokoknya kakak janji, kakak akan berusaha membagi waktu luangku.” jawabnya sambil menenangkanku. Tapi meskipun begitu, masih ada rasa khawatir kak di dalam hatiku. “Fania? Kok diam sih? Udah dong jangan sedih lagi ya. Aku nggak suka kalau ngeliat kamu bersedih kayak gitu. Ayo senyum dong.” hiburnya padaku. Aku pun berusaha senyum dihadapannya, memberikan senyuman termanis untuknya & mungkin itu adalah senyuman terakhirku dihadapannya...tidaklah buruk bukan? Tapi sebenarnya, hati ini tidaklah bisa tersenyum manis, kak. Masih ada sedikit rasa khawatir.
Beberapa bulan kemudian...
Waktu terus berjalan hingga membawa aku ke masa depan. Sampai saat ini, aku masih ingat kenangan-kenangan indah bersamanya. Kak Bagas. Iya, cowok yang dulunya sempat membuatku penasaran itu. Komunikasi kita masih berjalan cukup baik. Tapi itu dulu. Semenjak 2 bulan lalu...ia tak pernah menelfonku sama sekali. Bahkan saat aku mengirim sms untuknya, tak kunjung ada balasan. Apa yang sedang terjadi padanya? Apa ia sakit? Apa ia sedang sibuk? Aku pun tetap berusaha untuk bisa berkomunikasi dengannya. Udah aku chat, mention di twitternya tapi tetap saja. Itu semua tak ada hasilnya. Hmm, hal ini yang membuat aku sedikit resah. Apa yang terjadi padamu, kakakku? Apa..kau sudah melupakanku? Apa..kau tak ingat pertemuan terakhir kita dulu, kak? Apa..kau juga tak ingat dengan aku? Kau dulu anggap aku sebagai adikmu, kak. Adik kesayanganmu, bukan? Tapi apa yang kau lakukan padaku saat ini? Rasa khawatirku dulu akhirnya kejadian. Rasa khawatir itu saat ini tumbuh menjadi rasa kecewa. Apa yang bisa aku lakukan saat ini, kakak? Apa..aku pernah berbuat kesalahan hingga kau tak pernah memberi tahu kabarmu. Aku hanya bisa menunggu, menunggu & menunggu. Menunggu akan kembalinya kau padaku. Kenapa sebuah pertemuan terkadang diakhiri dengan sebuah perpisahan? Kenapa? Apa...semua takdir manusia demikian? Mengalami pertemuan & perpisahan? Kak Bagas, andai kau dengar hatiku ini bertanya-tanya akan kabarmu padaku.
Kutuliskan semua isi hatiku ini pada selembar kertas warna pink. Semua orang menganggap bahwa semua kertas pink itu isinya adalah surat cinta tapi tidak denganku. Aku mengisinya dengan kekecewaanku pada salah satu orang yang aku sayangi selama ini. Iya...orang itu adalah kak Bagas. Sambil mendengarkan lagu “I will remember you” dari Sarah Mclachlan mungkin bisa mewakili isi hatiku ini padanya.
Memang aku tak pernah memilikimu. Hanya sebatas mengagumimu saja. Meskipun kau tahu, aku menyimpan rasa untukmu. Tapi kenapa? Kenapa kau tak pernah tanyakan itu padaku. Meskipun kau selalu bersikap begitu padaku. Berusaha baik didepanku, hanya untuk membuatku senang. Tapi.. ada satu hal yang selalu aku ingat darimu dulu. Sesuatu yang selalu aku ingat sampai sekarang adalah sesuatu yang pernah kau janjikan padaku. Ya..sebuah janji darimu. Janji untuk kembali padaku. Janji itu masih kuingat di lubuk hatiku, didalam raga ini. Meskipun engkau tak sadar akan hal ini.
KAKAK.. WILL YOU REMEMBER ME?
TAMAT