Rabu, 12 November 2014

Cerpen Goresan Pena


Banyak orang bilang kalau masa-masa SMA itu masa yang paling indah. Katanya sih, masa SMA adalah masa dimana para remaja mencari jati diri, masa peralihan dari masa remaja menjadi dewasa, atau masa dimana seseorang mulai mengenal cinta. Hari ini, pagi ini aku resmi menjadi siswa SMA baru. Hari pertama MOS kali ini tidak begitu menarik menurutku. Tetapi hari-hari berikutnya aku merasa ada yang berbeda dengan kedatangan murid baru. Iya anak cowok yang telat masuk dari hari pertama. Menurutku sih anaknya biasa-biasa aja, anaknya tinggi, kulitnya kecoklat-coklatan. Apa yang spesial dengannya? Tapi yang membuat aku heran adalah rata-rata teman cewekku di kelas mengaguminya atau bahkan menyukainya. Benar-benar aneh. Memang sih aku akui wajahnya agak sedikit tampan, tapi... ah sudahlah ngapain aku mikirin dia? Nggak penting juga.
Seminggu kemudian pengumuman pembagian kelas baru diumumkan. Papan pengumumannya penuh dengan para siswa. Aku pun turut berdesakan melihat hasil pengumuman itu. Saat aku lihat satu persatu nama siswa yang ada di daftar, “Apa? Raka Adiputra sekelas denganku? Kok bisa gitu sih?” aku terkejut saat melihat nama anak itu ternyata sekelas sama aku. “Memangnya kenapa? Nggak suka ya?” aku pun sontak menoleh ke arah salah satu siswa disampingku. Betapa terkejutnya aku saat melihatnya, melihat ia berada di sebelahku & ia mendengar perkataanku tadi. Raka berada disebelahku saat itu. Aku tak bisa berkata apa-apa saat melihatnya. Aku hanya bisa bengong dihadapannya. Andai saja aku tak berkata begitu tadi, hal ini tak akan terjadi. Seketika itu aku langsung pergi meninggalkannya tapi Raka malah memanggilku & ia membuatku menghentikan langkahku, “Kenapa malah pergi? Ada apa dengan Raka Adiputra? Apa kau punya masalah dengannya?” tanyanya sambil ia berjalan mendekatiku. “Oh ehm nggak. Nggak ada apa-apa kok.” jawabku dengan sedikit gugup & aku pun pergi meninggalkannya.
Sudah 2 minggu ini aku sekelas dengan Raka. Rasanya dunia ini berjalan sangat cepat. Dulu waktu pertama kali ketemu, aku selalu nethink padanya. Tapi setelah mengenalnya, ternyata ia baik juga. Aku pikir Raka itu anaknya nggak asik, sombong tapi setelah aku lihat selama ini ternyata nggak juga. Semakin lama aku makin akrab dengannya, dengan Raka. Iya bisa dibilang aku dengan Raka cukup dekat. Tapi semua ini cuma sebagai teman karena Raka sendiri udah punya pacar. Iya meskipun begitu, tak masalah bukan? Selain itu, Raka sering menceritakan apapun. Entah itu saat ia mengalami masalah ataupun saat bahagia. Sejauh ini aku nggak nyangka dengan keadaanku sekarang. Yang awalnya benci dengan Raka, sekarang malah jadi teman. Takdir memang selalu memberikan kejutan bagi semua orang, tak terkecuali aku.
Namun akhir-akhir ini, Raka tak seperti biasanya. Ia sering murung tanpa alasan. Saat aku tanyakan mengapa ia murung, ia tetap diam saja. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Saat aku melihatnya di kantin sendirian, aku mencoba untuk menghampirinya & menanyakan apa yang tengah terjadi padanya. Saat aku duduk di dekatnya, aku tak tega melihatnya saat itu. Ia melamun sambil memandangi minuman dihadapannya itu. “Raka, kamu kenapa? Akhir-akhir ini aku liat kamu kok kamu sering melamun? Ada apa?” tanyaku penasaran. Tapi Raka tetap bungkam, ia tak mau menjawab perkataanku tadi. “Raka, kalau ada masalah cerita sama aku ya.” kataku. “Aku baru putus sama pacarku.” akhirnya Raka cerita juga. Tapi...apa yang dia bilang? Baru putus? Iya ampun aku pikir ada masalah serius dengannya. Raka, seorang cowok yang aku kenal selama ini, cowok yang selalu riang tapi bisa bersikap begitu setelah putus dari pacarnya? Aku benar-benar nggak nyangka. “Raka, kamu itu cowok. Kamu harus tegar dong. Masa’ gara-gara diputusin aja udah sering ngelamun kayak gini? Kamu itu jangan...” belum selesai aku bicara Raka langsung memotong ucapanku. “Kamu nggak tau apa-apa, Rara. Selama ini aku sangat menyayanginya.!” katanya. Aku tak percaya dengan apa yang aku hadapi saat ini. Aku mencoba menenangkannya tapi ia malah memarahiku. “Apa yang salah denganku, Raka? Aku cuma ingin membantumu. Sebenarnya aku nggak mau ikut campur masalahmu ini, tapi aku nggak tega ngeliat kamu terus-terusan murung kayak gini. Buat apa kamu masih mikirin dia yang telah menyakitimu?” mendengar perkataanku ini justru membuat Raka marah padaku, “Aku nggak mau dikasihani, apalagi sama seorang cewek seperti kamu! Sebelumnya, aku juga nggak minta kamu buat nasihatin aku, bukan?”
Apa aku tak salah dengar barusan? Raka berbicara seperti itu padaku? Apa yang ada di pikiranmu saat ini, Raka? kenapa kau bisa berkata seperti itu padaku? Rasanya ada gejolak dalam perasaanku ini. Aku berusaha menahan rasa marahku ini padanya, aku nggak nyangka Raka bisa berkata seperti itu padaku. Seketika itu aku langsung pergi meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri dalam kesedihannya itu.
Semenjak kejadian itu, aku sama sekali belum berbicara apa-apa lagi padanya. Saat bertemu dia pun, aku memilih untuk diam padanya. Rasanya teman yang dulu aku kenal itu, teman yang selalu riang, selalu bersamaku. Kini ia telah menjauhiku. Aku benar-benar nggak ngerti apa yang ada di pikirannya saat ini. Menjauhiku? Apa itu jalan keluarnya, Raka? Lamunanku berhenti saat hpku bergetar saat itu. Kubuka hpku dan ternyata...
1 message from Raka. Seketika itu aku langsung membacanya.
“Rara, aku minta maaf soal kejadian waktu itu di kantin. Gara-gara kejadian itu, hubungan pertemanan kita jadi renggang. Aku nggak tau kamu masih marah sama aku apa enggak. Yang jelas aku minta maaf padamu atas kelakuanku waktu itu. Sebagai rasa maafku, aku mau ngajak kamu makan nanti pas pulang sekolah. Kamu mau kan?”
Kumasukkan hpku ke dalam tas. Aku tak mau membalas pesan dari Raka. Aku tak tau apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Iya meskipun ia telah meminta maaf padaku, tapi rasanya hati ini masih berat untuk memaafkannya. Aku pergi ke kantin untuk membeli makanan & aku pun pergi ke taman sekolah untuk menenangkan pikiranku. Melihat keindahan taman sekolah, sejenak dapat melupakanku akan masalahku dengan Raka. Tak lama kemudian teett..tett..teettt... bel masuk pelajaran terakhir telah berbunyi. Segera aku berjalan menuju kelas dengan wajah yang muram.
Sesampainya aku di kelas, kubuka hpku saat itu. Saat kubuka ada 10 pesan dari Raka & 3 misscall darinya. Isi smsnya sama. Meminta maaf padaku & mengajakku makan. Dengan berat hati aku langsung membalas pesan darinya :
“Iya, aku mau.”
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengirim pesan itu. Tak perlu mengetik pesan panjang-panjang. Toh, dia pasti sudah mengerti kalau aku masih marah padanya.
Sepulang sekolah Raka menungguku di depan sekolah dengan sepeda motornya. Ia mengajakku ke kedai siomay kesukaanku yang letaknya tak jauh dari sekolah. Sesampainya disana, Raka langsung memesan 2 porsi siomay. Aku masih diam saat itu, seketika itu juga Raka langsung bertanya padaku, “Aku minta maaf Rara. Aku tau kamu masih marah padaku atas sikapku yang terlalu kasar padamu. Maafkan aku ya Rara.” katanya sambil tersenyum dihadapanku. Melihat senyumannya yang manis itu, tak tega rasanya jika tidak memaafkannya. Aku pun langsung menganggukkan kepalaku. “Tapi, kalau kamu udah maafin aku. Kenapa kamu masih murung? Apa kamu nggak ikhlas maafin aku?” tanyanya penasaran. “Ehm enggak kok. Aku nggak apa-apa. Aku udah maafin kamu. Aku senang melihatmu nggak sedih lagi.” kataku seketika itu sambil tersenyum dihadapannya. Kalau boleh aku akui padamu, Raka....aku sangat sedih kalau kita bertengkar kayak gini. Baikan lebih baik, bukan? “Wei, kok malah diam? Ada apa?” sontak Raka langsung membuyarkan lamunanku saat itu. Aku sontak menggeleng padanya. Tak lama pesanan kami datang. Sudah lama rasanya nggak makan bareng sama Raka. Hmm, hari ini bisa dibilang hari yang paling bahagia buatku.
“Oh ya, ada yang mau ceritain ke kamu. Berita yang paling membahagiakanku.” katanya sambil tertawa lebar. “Apa itu?” tanyaku penasaran. “Kemarin, aku baru aja balikan sama Putri. Kamu tau nggak, Rara. Aku seneng banget. Pokoknya mulai sekarang aku akan menjaga hubunganku ini dengan Putri. Aku sangat sayang padanya jadi aku nggak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya.” katanya sambil tersenyum riang. Seketika itu pun aku terdiam. Apa? Balikan? Raka sama Putri balikan? Apa aku tak salah dengar? Kata-kata yang baru keluar dari mulutnya Raka begitu menusuk hatiku. Apa yang tengah terjadi padaku? Kenapa aku tak begitu senang mendengarnya? Apa aku selama ini.... Ahh, tidak mungkin.
“Rara, ada apa? Kelihatannya kamu nggak begitu senang mendengarnya?” tanyanya. “Nggak apa-apa. Aku senang kok. Senang sekali. Senang melihatmu bahagia kayak gini.” Mendengar perkataanku, Raka langsung tersenyum bahagia. Senyumnya itu menandakan kalau ia merasa sangat bahagia. Aku berusaha tersenyum dihadapannya. Meskipun itu adalah sebuah senyuman palsu. Melihatmu bahagia kayak gini, aku cukup senang. Meskipun kau tak tau apa yang tengah aku rasakan saat ini.
Sejak pembicaraanku dengan Raka itu, aku memilih untuk mengurung diri di kamar sampai malam. Aku hanya keluar saat makan malam saja. Di kamar, aku meraih sebuah buku tulis–aku tidak terlalu memperhatikan itu buku tulis apa–yang telah berisi setengah. Kubuka halaman yang masih kosong secara acak.
Lalu kutuliskan semua isi hatiku disitu :
Apa yang spesial darinya? Sehingga kau memilih untuk kembali kepadanya. Tak ingatkah kau akan 1 hal? Dia...dia pernah menyakitimu dulu.
Lalu kubuka lembaran kosong & aku tulis lagi disitu :
Apa...hatimu sudah tertutup buat orang lain sehingga kau memilih kembali pada orang yang pernah menyakitimu dulu. Kenapa kau tak bisa membuka hatimu buat orang lain?
Kubuka lembaran kosong lagi & aku tulis lagi disitu :
Saat aku tau kau tengah rapuh, aku berusaha mengobati luka itu. Tapi..tapi kenapa kau malah memarahiku, Raka? Bahkan perkataanku saat itu, tak kau dengarkan sama sekali. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberikan senyuman palsuku itu lagi diatas kebahagiaanmu? Aku tak bisa, aku tak bisa memungkiri kalau aku suka sama kamu, Raka. Aku...aku telah terjebak dalam perasaanku sendiri padamu.
 Kubuka lembaran kosong lagi & aku tulis lagi disitu :
Apakah mencintaimu adalah sebuah kesalahan bagiku?
Kututup buku itu. Air mataku yang keluar saat itu juga tak bisa aku tahan. Biarkanlah  air mata ini menetes. Air mata ini telah mewakili hatiku merasakan akan kesedihan yang aku alami saat ini.
Keesokan harinya, di kelas. Raka meminjam buku tulis Ppknku karena ia belum sempat menyalin materi kemarin. Tanpa berpikir panjang aku langsung meminjam bukuku pada Raka & aku langsung meninggalkannya di kelas. Raka segera mengambil buku itu. Memang Raka jarang mencatat materi yang diberikan oleh guru sehingga ia sering meminjam bukuku.
Kali ini aku mendapati sikap Raka yang tidak biasa padaku setelah waktu hampir menunjukkan jam pulang sekolah. Tatapannya itu sungguh aneh padaku. Apa yang tengah terjadi padanya? Sejak dari jam ke 4 pelajaran tadi ia sama sekali tak berbicara sepatah kata pun padaku. Bahkan wajahnya cenderung muram.
 Saat aku hendak pulang, tiba-tiba Raka menarik tanganku tanpa berbicara sepatah kata pun padaku. Ia membawaku ke lantai 2 sekolah. Apa maksudnya ini? Aku sama sekali tidak mengerti mengapa Raka membawaku kesini.
“Aku mau tanya sesuatu ke kamu. Kamu harus jawab jujur.” sambil mencondongkan badannya dihadapanku. “Kamu kenapa sih? Serius amat bicaranya. Ada apa?” tanyaku penasaran. “Apa benar tulisan-tulisan yang ada di buku tulis kamu ini benar tulisan kamu?” katanya sambil mengeluarkan buku tulis itu yang ada dalam tasnya. Aku sempat heran dengan tatapan wajahnya Raka padaku. “Tulisan? Tulisan apa sih? Catatan materinya ada yang salah ya?” kataku. “Kau tak ingat tulisan apa yang pernah kau tulis di halaman belakang buku tulismu itu?” sambil membuka buku tulis itu. Semakin lama aku seperti orang bodoh yang tiba-tiba aku tak dapat mengingat apa yang aku tulis sebelumnya.
“Apa maksudnya ini, Rara? Ini bukan tulisan kamu kan?” tanyanya sambil menunjukkan tulisan itu padaku. Saat aku membacanya, aku langsung terkejut. Rasanya aliran darah pada nadiku sontak berhenti sejenak. Jantungku berdebar kencang saat itu. Aku tak dapat berkata apa-apa waktu itu. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada Raka?
“Ra, jawab pertanyaan aku. Yang kamu tulis ini bohongan kan?” sambil menggoyang bahuku. Apapun yang terjadi, aku harus katakan yang sebenarnya pada Raka. pikirku saat itu juga. Sambil menarik nafas dalam-dalam aku mulai membuka mulutku & mulai berkata, “Itu benar. Aku yang nulis semuanya.” Kataku seketika itu. Aku bisa merasakan ada sedikit kekecewaan pada raut muka Raka setelah mendengar perkataanku. Berbicara jujur padanya cukup membuat aku lega tapi disisi lain, aku takut...aku takut kalau Raka akan menjauhiku. Beberapa menit berlalu, kami berdua saling diam. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Raka. Aku pun demikian, menangis adalah salah satu cara seseorang untuk mengekspresikan perasaannya saat itu. Air mataku kembali menetes, air mata yang sama saat aku menulis ‘tulisan’ itu di bukuku.
“Raka..aku minta maaf. Seharusnya aku sadar dari dulu kalau aku harus menghilangkan perasaanku ini padamu. Tapi...aku tak berdaya. Perasaan itu...perasaan yang salah itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku...aku.” belum selesai aku berbicara, Raka langsung memotong perkataanku. “Rara, kamu nggak salah. Aku yang bodoh, selama ini aku nggak sadar akan hal ini. Aku terlalu egois memikirkan diriku sendiri.” jawabnya. “Tapi Raka..” seketika itu Raka langsung memegang bahuku. “Aku hargai perasaanmu itu padaku. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu itu. Hatiku sudah ada yang memiliki. Tapi kau adalah temanku, kau boleh anggap aku sebagai teman dekatmu tak lebih dari itu.” Mendengarnya, sontak membuatku ingin memeluknya. Aku memeluk Raka seketika itu juga & air mataku tak henti-hentinya menetes karena air mata ini adalah air mata kebahagiaanku.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Si Spesial Golongan Darah B


Orang dengan darah tipe B berkarakter paling santai. Mereka cenderung kurang kooperatif karena lebih suka mengikuti aturan dan ide-ide mereka sendiri. Mereka adalah individualis. Memperhatikan pikiran mereka lebih sedikit daripada perasaan mereka.Oleh sebab itu terkadang tampak dingin dan serius. Orang dengan darah tipe B sering dianggap tidak konvensional daripada jenis golongan darah lainnya.
a. Pemilik golongan darah B ini suka penasaran dan tertarik terhadap segala hal baru.
b.Mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobi. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
c. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
d. Ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal dan tidak mau hanya dianggap rata-rata. Cenderung melalaikan lain hal jika sedang terfokus pada satu hal. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan alias kurang bisa multi-tasking.
e. Terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias dari luar tetapi sebenarnya semuanya ternyata sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam diri mereka.

Cara Berkomunikasi dengan Orang Bergolongan Darah B
Ada karakter ada gaya. Orang bergolongan darah B memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergolongan darah A. Mereka lebih praktis, egois, kreatif, optimis dan bebas dalam berpikir. Mereka juga memiliki kecenderungan mengerjakan segala sesuatu secara individual. Oleh karena itu, di Jepang, untuk membentuk sebuah tim yang kuat sehingga motto yang digagas John C. Maxwell: teamwork makes the dream work benar-benar menjadi kenyataan, orang golongan darah B ini biasanya kurang dilibatkan.
Untuk lebih jelas, gaya komunikasi dengan orang bergolongan darah B berikut dapat dijadikan pedoman:
” Mulailah pembicaraan dengan runtun, jangan melompat-lompat karena mereka kurang menyukai hal-hal yang tidak teratur.
” Jangan memulai pembicaraan tanpa mengakhirinya.
” Gunakan data-data akurat, bukan rekaan.
” Jika mengajak kerjasama, pastikan bahwa mereka bersedia.
” Berbicaralah kepada otaknya bukan hatinya. Gunakan lebih banyak fakta rasional daripada sosial.
” Jangan menggunakan gaya bicara yang terburu-buru.

Orang dengan golongan darah B lebih suka mendengarkan uraian rinci dan runtun. Mereka suka ada awal dan akhir dari sebuah percakapan. Karena mereka sangat concern dengan apa yang telah dimulai untuk dapat diakhiri. Mereka tidak suka orang yang berbicara secara tidak jelas dan tanpa pertimbangan rasional karena mereka lebih menggunakan nalar rasio-nya daripada perasaannya.

Berikut ini Penyakit yang sering dijumpai pada Orang bergolongan Darah B

– Kerusakan sistem syaraf,
– susah tidur,
– sakit kepala atau migrain, 
– penyakit hati,
– gangguan saluran empedu,
– gangguan saat haid,
– sakit tulang belakang, 
– kegemukan 
– serangan jantung

MAKANAN : 
Pemilik golongan darah B adalah kebalikan dari golongan darah A. Mereka diizinkan menyantap sumber hewani dengan sumber hewani dengan porsi lebih banyak. Namun karena memiliki darah B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium. Daftar makanan yang diperbolehkan adalah semua produk susu kecuali, blue cheese dan es krim, telur ayam baik organik maupun ayam kampung.

CIRI KHAS :
-Sistem kekebalan tubuh kuat
-Stres bisa diatasi dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas
-Dianjurkan melakukan latihan gerak seperti renang dan jalan kaki
-Dianjurkan juga untuk melakukan diet dengan berbagai variasi dari setaip golongan darah
-Tipe ini sangat cocok untuk asupan susu



Kamis, 25 September 2014

About Macro Excel


MACRO EXCEL
Macro adalah sederetan fungsi dan perintah program yang disimpan dalam menu Visual Basic. Microsoft Excel menyediakan fitur untuk merekam aktivitas yang dilakukan oleh penggunanya melalui tools -> macro -> record new macro. Record new macro berguna untuk merekam aktivitas yang dilakukan dan merubahnya menjadi baris-baris program.
Namun macro juga dapat digunakan oleh user untuk membuat perintah atau procedure melalu bahasa VBA atau Visual Basic for Application yang cukup populer, sederhana dan mudah untuk dipelajari. Semakin besar pemahaman anda tentang bahasa VBA maka semakin banyak dan canggih pula prosedur atau perintah-perintah yang dapat anda buat untuk memudahkan perkerjaan anda dengan Microsoft Excel. Contoh sederhana dari fungsi atau kegunaan macro adalah apabila anda melakukan pekerjaan yang banyak tapi monoton. Dari pada anda membuang-buang waktu dengan mengerjakan pekerjaan yang monoton secara manul, kenapa anda tidak merekamnya saja dengan macro kemudian melakukan sedikit modifikasi. Pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan berjam-jam dapat selesai hanya dengan sekali klik. Contoh lain adalah apabila anda ingin membuat fungsi yang belum tersedia pada fungsi standard yang disediakan oleh excel, maka anda dapat membuat fungsi yang anda inginkan melalui Macro berupa User Defined Function (UDF).
Untuk dapat menggunakan macro, anda harus terlebih dahulu melakukan setting terhadap macro security level pada Microsoft Excel anda. Caranya adalah melalui tools -> macro -> security lalu set security level pada level Medium. Jangan gunakan low apabila anda sering menerima file dalam bentuk excel karena kemungkinan anda mendapat file excel yang mengandung virus macro menjadi sangat tinggi.
Dengan level medium anda dapat menentukan apakah anda akan meng-Enable atau Disable macro yang terdapat pada file excel yang akan anda buka. Namun jika macro security level anda di set pada level Low maka anda tidak akan mendapat pemberitahuan bahwa file yang akan anda buka berisi macro atau tidak.







CARA MENJALANKAN MACRO

Cara menjalankan Macro adalah dengan cara:
- Dari menu bar Visual Basic Editor (VBE) dengan mengklik [Run] - [Run Sub/UserForm F5]
- Dari menu bar Visual Basic Editor (VBE) dengan menekan tombol F8 beberapa kali untuk Melihat Macro Bekerja Step by Step atau line demi line
                                 

Kedua cara di atas adalah melalui Visual Basic Editor. Tentu saja ini agak riskan jika pemakai Macro anda harus selalu masuk ke VBE. Karena bisa jadi Macro yang anda buat, secara sengaja ataupun tidak sengaja bisa "tersentuh" dan berubah yang mengakibatkan kesalahan pada program.
Menjalankan Event pada Macro yang paling banyak digunakan adalah melalui Tombol (Button) Tombol ini umumnya di tempatkan pada Worksheet dan UserForm. Untuk menjalankan Event cukup hanya dengan mengklik tombol ini

Note
Event adalah :
Kejadian yang timbul akibat prosedur VBA (Macro) dijalankan, adapun contoh Event adalah Menghapus range, Membuka file,Mengcopy range, Mengcopy sel dll. Kembali ke awal tadi, bagaimana menjalankan Macro selain 2 cara yang di atas tadi? Pertama- tama siapkan sebuah kode sebagai bahan untuk latihan, kodenya adalah sbb:
Sub Latihan()

Range("A1").Value = 10
Range("A2").Value = 15
Range("A3").Formula = "=A1+A2"

Range("A1").Select

End Sub

CARA 1
- Dari menu bar Sheet1 Excel klik [Tools] - [Macro] - [Macros]
- Akan muncul seperti Gambar 1 berikut






- Lalu klik tombol Run, maka Macro akan dieksekusi yaitu muncul angka pada selA1=10,A2=15 dan A3=25

CARA 2
- Hapus angka terdapat pada SeL A1,A2 dan A3
- Dari menu bar Sheet1 Excel klik [Tools] - [Macro] - [Macros]
- Perhatikan Gambar 1 lalu klik tombol Options
- Lalu akan muncul gambar berikut



- Pada kotak Ctrl+Shift ketikkan huruf S besar lalu klik OK.
- Sekarang tekan Ctrl+Shift+S bersamaan, maka Macro akan dieksekusi

Bagaimana mengaktifkan fungsi macro di excel 2010?  Pertanyaan ini pasti akan muncul ketika kita baru pertama kali menjalankan file yang berisi kode macro atau pertama kali kita belajar macro.
Langkah pertama, buka file excel yang ada di dalam kumpulan program komputer, kemudian bagian atas ada beberapa menu seperti File, Home, Insert dan seterusnya. Klik menu FILE tersebut, kemudian di bawah menu yang tampil tersebut, di bagian bawah akan ada teks Options, seperti yang ditunjukan pada gambar di samping ini. Tunggu beberapa saat akan tampil windows baru. Ikuti langkah selanjutnya.




Kemudian klik menu Trust Center, seperti yang ditunjukkan pada gambar di samping ini.




Setelah itu klik tombol Trust center settings seperti yang ditunjukkan pada gambar di samping.

 
Di sidebar sebelah kiri, ada menu Macro Setting pastikan pilih setting keempat,Enable all macro (not recommended; potentially dangerous code can run). Di bagian bawahnya juga aktifkan Developer Macro Settings, kemudian check list pilihan Trust access to the VBA project object model.

Sampai langkah ini, kita sudah dapat mulai membuat prosedur macro atau mencoba code macro yang ada di blog ini. Macro yang kita buat ini, nantinya dapat digunakan melalu bahasa VBA atau Visual Basic. Eits, jangan ciut dulu denger bahasa pemograman. Nanti akan saya coba dengan tahapan yang sederhana dan mudah untuk dipelajari. Semakin besar pemahaman anda tentang bahasa VBA maka semakin banyak dan canggih pula prosedur atau perintah-perintah fungsi excel macro yang dapat anda buat untuk memudahkan perkerjaan anda dengan Microsoft Excel.




























Sabtu, 20 September 2014

Cerpen "Senja di Matamu"



Menjadi seorang gadis yang ceria di umurku saat ini mungkin itu hanya sebuah keinginan belaka. Semua impianku telah hilang semenjak kecelakaan itu menimpaku. Iya, aku mengalami kebutaan. Kecelakaan itu menimpaku sejak 1 tahun yang lalu. Waktu itu, saat aku & kakakku membantu pamanku untuk mengantarkan pesanan guci-guci besar ke para pelanggannya. Aku pun memilih untuk duduk di bak belakang bersama dengan tumpukan guci-guci besar itu. Namun, beliau telah melarangku untuk duduk di belakang bersama tumpukan guci-guci besar itu. Tapi aku tak mau mendengarkan larangannya itu, aku tetap duduk di belakang bersama tumpukan-tumpukan guci itu. Dan berharap suatu saat nanti aku bisa meneruskan usaha pamanku ini.
Hari itu berjalan cukup lambat, pick up yang kami tumpangi untuk sampai di tujuan mengalami kemacetan. Rasanya aku telah terpanggang di bawah panasnya matahari saat itu, tapi demi belajar menjadi wirausahawan seperti pamanku. Aku tak boleh sampai menyerah. Kulihat guci-guci itu, tampak anggun dengan hiasan-hiasannya. Bentuknya, modelnya itu semakin membuatku senang melihatnya. 15 menit kemudian kami lolos dari kemacetan itu. Karena pamanku takut tidak sampai sana tepat waktu, beliau mengendarai pick up-nya itu dengan kencang. Sangat kencang. Sampai-sampai mobil yang melaju dari arah yang berlawanan kehilangan kendali dan langsung menghantam pick up-nya pamanku. Seketika itu juga, tumpukan guci-guci itu jatuh dan menimpaku. Aku tak tahan menahan diriku lebih lama lagi. Saat itu juga, aku pun pingsan di antara tumpukan-tumpukan guci yang pecah belah itu. Aku tak tahu bagaimana kondisi kakakku & pamanku.
Aku tak sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu. Berbeda dengan paman & kakakku, mereka tak sadarkan diri selama 2 hari. Dibandingkan dengan kondisi mereka, kondisiku jauh lebih parah. Saat aku mulai siuman, aku mencoba membuka mataku perlahan-lahan karena saat itu mataku diperban. Saat mataku mulai terbuka, aku tak dapat melihat apa-apa di sekelilingku. Bahkan aku hanya bisa mendengar suara mamaku yang berada di sampingku. “Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tak dapat melihat apapun disini?” kataku saat itu juga. Mendengar pertanyaanku, mamaku hanya diam. Tak satupun orang yang menjawab pertanyaanku itu. Aku hanya bisa mendengar isak tangis mereka. Kenapa? Kenapa mereka menangisiku seperti itu? “Keadaan kakak & paman gimana, ma? Apa mereka sudah siuman?”
“Kondisi mereka saat ini sudah membaik, nak. Kamu yang tabah ya, nak. Kamu..kamu mengalami kebutaan.” jawab mamaku seketika itu juga sambil menangis. Apa? aku buta? Apa aku tak salah dengar? Cobaan apa yang telah Engkau berikan padaku, Ya Allah? Aku..aku belum siap untuk menerima semua ini. Aku buta..aku buta.
“Ini semua nggak adil buatku, ma. Kenapa kondisiku lebih parah dari kakakku? Kenapa..kenapa kakak hanya mengalami cedera di kepalanya? Tapi kenapa aku yang mengalami kebutaan ini, ma? Kenapa?” aku tak bisa menahan air mataku ini. Kubiarkan air mata ini menetes. Membanjiri pipiku, aku masih tidak percaya akan semua kejadian yang telah menimpaku dengan cepat kali ini. Aku..aku merasa iri dengan kondisi kakakku. Selama ini, aku dilahirkan dengan kondisi yang normal. Penglihatanku juga normal, namun kenapa takdir berkata lain? Aku mengalami kebutaan saat aku mulai belajar berwirausaha dengan pamanku.
“Tumpukan guci-guci itu menimpamu, & mengenai matamu. Celia..kalau kamu waktu itu tidak memaksa untuk duduk dibelakang dengan tumpukan guci-guci itu. Mungkin kamu nggak akan mengalami kondisi yang seperti ini.” ucap kakakku.
“Jangan salahkan aku kak! Takdir yang salah, kenapa Tuhan memberiku takdir seperti ini? Apa mungkin, Tuhan sudah tak sayang aku? Apa salahku, kak? Aku..aku iri dengan kondisimu kak. Kenapa kamu juga tak mengalami kebutaan seperti aku?” aku tak bisa menahan emosiku saat itu, rasanya aku ingin marah pada semua orang. Ini benar-benar tak adil buatku. Takdir yang telah membuatku seperti ini, takdir yang salah! Takdir yang salah!
Hari demi hari berlalu. Kondisiku sudah mulai membaik. 2 hari yang lalu, aku diijinkan pulang oleh dokter. Senang rasanya bisa kembali ke rumah. Tapi kali ini, aku sudah tak bisa melihat rumahku lagi. Bahkan aku pun tak bisa bermain dengan snappy-kucing peliharaanku- lagi. Kini, hanya tongkatku yang selalu setia menemaniku kemanapun. Hanya dengan tongkat ini lah, aku bisa berjalan dengan baik meskipun penglihatanku sudah tidak berfungsi lagi.
Semenjak kejadian itu di rumah sakit, aku tidak berbicara sepatah kata pun dengan kakakku. Saat ia mendekatiku & mencoba untuk memulai pembicaraan denganku. Aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Aku pun tak mengerti akan kata hatiku saat itu. Aku tau yang aku lakukan saat itu sangat menyakiti kakakku. Namun, kali ini aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Iyaa, benar-benar sendiri.
---
“Celia..ikut aku ya? Aku lihat kamu akhir-akhir ini, kamu sering sekali melamun di pinggir kolam. Aku akan mengajakmu ke tempat yang begitu indah. Kamu pasti akan menyukainya.” tiba-tiba suara itu terdengar di telingaku. Iya, itu suara kakakku. Aku hanya tersenyum saat ia mengajakku pergi ke suatu tempat.  Meskipun aku sudah tak bisa melihat lagi. Aku masih mengingat suara kakakku. Suara yang begitu gagah itu. Aku masih ingat semua kenangan-kenangan dulu bersama kakakku. Meskipun aku menjauh darinya selama beberapa hari ini, namun ia tetap berusaha untuk membuatku senang. Baginya, kesedihanku adalah penderitaan untuknya. Jadi ia tak mau membuatku bersedih lagi. Aku baru sadar kalau selama ini aku hanya bisa merepotkan kakakku. Kakak kesayanganku yang selalu merawatku.
Sesampainya di sana, kakakku mengajakku duduk di suatu tempat. “Kak, kita mau kemana?” tanyaku saat itu. “Aku mau mengajakmu duduk-duduk di pinggir danau sana. Aku mau melihat senja bersamamu, adikku sayang.” Mendengar perkataan kakakku barusan, membuatku terharu. Selama ini kakakku begitu menyayangiku tapi aku pun tak sadar akan hal itu. Aku hanya bisa tersenyum bahagia saat itu. Memiliki kakak yang begitu menyayangiku & begitu perhatian padaku adalah salah satu hal yang paling menyenangkan buatku. Rasanya aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini yang memiliki kak Vano sebagai kakakku.
“Kita duduk disini ya, cel. Asalkan kamu tau, pemandangan disini indah banget. Aku yakin kamu bisa merasakan damainya tempat ini waktu sore hari apalagi di waktu senja.” Aku tersenyum saat mendengar perkataan kakakku. Berada disampingnya kali ini, membuatku nyaman.
“Aku tau, kamu masih belum bisa menerima kondisimu saat ini. Tapi percayalah padaku, aku akan selalu menjagamu. Aku akan selalu berada disampingmu. Bahkan, aku bisa menjadi mata keduamu saat ini. Asalkan kamu tau, aku nggak mau kehilanganmu lagi semenjak kecelakaan itu. Bagiku, memiliki adik sepertimu sudah cukup dalam hidupku.” Perkataan kakakku itu membuatku tak dapat menahan tetesan air mata. Aku nggak nyangka kalau ia benar-benar menyayangiku. Namun apa yang telah aku lakukan padanya selama ini? Kakak..maafin aku. Begitu bodohnya aku hingga aku tak bisa merasakan kasih sayangmu selama ini padaku.
“Celia..kok malah nangis? Ada apa?” tanyanya sambil mengusap air mataku yang jatuh. Seketika itu ia memegang pipiku, ia meyakinkan aku untuk tidak menangis lagi. “Aku minta maaf kak, selama ini hatiku salah menilai kakak. Takdirku memang menjadi gadis buta. Tapi aku malah menyalahkan kakak. Aku bodoh ya kak. Benar-benar bodoh.” jawabku. “Cel, kamu nggak salah. Kakak tau, emosi-lah yang membuat kondisi hatimu seperti itu. Aku yakin, dibalik hatimu itu pasti ada secuil kebaikan dari dalam dirimu.”
Hari ini adalah hari yang terindah bagiku. Saat kau ajak aku pergi melihat senja di pinggir danau & merasakan hangatnya senja saat itu. Aku percaya padamu. Meskipun sekarang aku tak dapat melihat lagi secara normal. Tapi aku tak takut lagi akan kegelapan. Melainkan aku sangat senang karena kau mau menjadi mata kedua-ku. Kasihmu, perhatianmu padaku membuatku bangga memilikimu, sebagai kakak.
Di danau ini, aku bisa merasakan damainya keadaan disekitarku. Aku merasa damai disini apalagi ditemani kakak kesayanganku. Ia duduk disampingku, menemaniku menikmati hangatnya senja sore ini. Saat aku memegang tangannya, aku bisa merasakan indahnya senja saat itu. Waktu itu..benar-benar tak bisa kulupakan bagiku.


Written by: @GeofanyPramesti

Kamis, 18 September 2014

Cerpen "Will You Remember Me?"



Mentari pagi tersenyum padaku, hari ini sungguh cerah sekali. Tak ada awan mendung yang menutupi langkah-langkahku pagi ini, yang ada hanyalah matahari pagi yang bersinar sepanjang hari. Kenalin aku Fania Salsabila, teman-temanku biasanya manggil aku Fani. Hari ini memang hari libur tapi tidak denganku, kuawali kegiatan hari Minggu ini dengan mengikuti les dance. Kutengok jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 8.15.. Tak terasa aku sudah lama berjalan selama 10 menit. Memang jarak dari rumah ke tempat les tidak begitu jauh, maka aku memilih untuk berjalan kaki saja. Sesampainya di tempat les, salah satu temanku menghampiriku, Andina namanya.
“Tumben kamu nggak diantar sama kakakmu itu? Padahal kan aku pengen ketemu wajahnya yang unyu itu hahaha..” canda Dina sambil tertawa dan mengajakku masuk ke White Room. White Room adalah tempat kami latihan disini. Ada beberapa tempat yang telah disediakan tapi kami biasanya latihan di White Room.
“Ah kamu bisa aja, kakakku lagi ada keperluan sama teman-temannya. Biasa lah anak teater.” Jawabku sambil tersenyum pada Dina. Sebelum jam lesnya dimulai, kami pun berbincang-bincang dengan teman-teman lainnya, hal apa aja yang bisa aku ceritakan, lebih enak menceritakannya pada teman-temanku. Belum selesai pembicaraan kami, datanglah seorang pelatih baru. Sontak semua anak di White Room kaget akan kehadiran pelatih baru itu.
“Saya pelatih baru disini. Panggil saja kak Bagas. Mari kita latihan.” Kata pelatih baru itu sambil tersenyum. Senyumannya itu sungguh membuat beberapa anak di kelas itu sempat terpana, tak terkecuali denganku. Tak sadar, aku telah lamaa melihatnya, memandangnya sambil senyum-senyum sendiri tapi lama kelamaan aku seperti telah bertemu sebelumnya, entah itu dimana aku pun tidak ingat. Wajahnya yang oval serta matanya yang sedikit sipit membuatku semakin penasaran padanya. Siapakah dia?  Wajahnya yang tak asing itu...Apakah aku pernah bertemu sebelumnya? Sempat memikirkan hal itu sejenak dapat membuatku gila & nggak konsen buat latihan sampai-sampai aku terjatuh & kakiku terkilir. Dengan sigap, kak Bagas langsung menolongku & mencoba untuk menyembuhkan kakiku yang terkilir.
“Auhh, sakit kak.” Rintihku saat kak Bagas mulai mengurut kakiku, meskipun itu rasanya sakit..mungkin rasa sakit itu berkurang karena yang mengobatinya adalah cowok yang bikin aku penasaran padanya. “Kaki kamu terkilir, sebaiknya kamu berhenti latihan dulu.” Katanya sambil memeriksa kakiku. “Tapi kak..aku masih pengen latihan.” Sontak aku memohon padanya, bak bagaikan anak kecil yang merengek minta permen pada ibunya tapi tetap saja, kak Bagas tetap melarangku.
“Jangan memaksakan dirimu untuk ikut latihan, kaki kamu terkilir. Bisa fatal nantinya kalau kamu paksa buat latihan. Kamu istirahat saja disini.” Kata-katanya itu seraya membiusku, suaranya yang lembut & rasa care-nya padaku sempat membuatku ge-er. Pikiranku mulai melayang-layang memikirkan hal itu, apakah mungkin ia? Ah tidak mungkin. Sontak aku menepis rasa angan-anganku itu padanya. Tidak mungkin juga cowok yang baru aja aku kenal langsung suka sama aku.
Keesokan harinya di sekolah...
Keadaan kakiku masih sama seperti kemarin, masih sakit. Jadi untuk jalan pun aku masih sedikit pincang. Siang ini setelah istirahat ke 2, B.Fela menyuruhku untuk mengantarkan hasil ulangan anak kelas 9C. Aku pun langsung membawanya dengan berjalan sedikit pincang. Sesampainya disana, kuketuk pintu kelas 9C yang tertutup itu. Karena tidak ada balasan dari dalam, akhirnya aku memberanikan diri masuk ke kelas itu. Tetapi tidak ada satu pun siswa di dalam kelas itu. Kenapa kelasnya kosong? Pikirku seketika itu, lantas aku pun segera meninggalkan kelas itu. Saat aku hendak membuka pintu kelas, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri & bergerak mengarahku. Dan seketika itu pun aku, “Auuhhh, kepalaku.” Iya aku pun terjatuh seketika & kertas-kertas ulangannya jatuh berserakan.
Saat mendengar suaraku dari dalam, seorang cowok yang membuka pintunya terlalu keras. Ia pun segera menghampiriku & meminta maaf padaku. Saat aku melihat dia, rasanya denyut nadiku mulai kencang. Darahku mengalir deras seperti air terjun yang berada di pegunungan. Cowok itu...sepertinya aku mengenalnya. Dia itu.... “Kamu nggak papa? Aku minta maaf ya aku tadi buka pintunya terlalu keras.” Ucapnya sambil ia membantuku merapikan ulangan itu. Saat ia memberikan beberapa ulangan itu padaku, ia menatapku..lamaa sekali. Sepertinya ia mengenalku. Tapi dimana? Sontak aku membuyarkan lamunanku, aku biarkan mataku memandanginya cukup lama. Iya aku baru sadar kalau cowok itu adalah pelatih baruku di tempat les.
“Kamu...kak Bagas kan? Kok kakak bisa ada disini sih?” tanyaku padanya dengan menyipitkan mataku karena aku sangat penasaran padanya. “Iya, loh kamu anak yang jatuh kemarin ya waktu latihan. Ya iyalah aku disini, aku sekolah disini & ini kelasku.” jawabnya sambil sedikit tertawa karena mengingat kejadian kemarin pas aku jatuh. Aduh, betapa malunya aku. Dia..cowok yang membuat aku penasaran itu ternyata kakak kelasku selama ini. Ampun deh, malunya aku. Kenapa aku bisa nggak tau ya kalau dia itu kakak kelasku. “Hei, kok malah ngelamun?” sambil menggoyang badanku yang membuat aku membuyarkan lamunanku itu. Huhh, kenapa sih aku malah ngelamun disaat-saat seperti ini?
“Maaf ya. Aku tadi nggak tau kalau kamu ada didalam. Semua temen-temenku di lab bahasa jadi kelasnya kosong. Ada perlu apa kesini?” tanyanya sambil tersenyum & kami berdua pun berjalan keluar kelas. Aku langsung memberikan kertas ulangan itu padanya, “Itu titipan dari B. Fela. Aku pergi dulu ya kak.” Entah apa yang membuat aku mengatakan itu padanya. Apa mungkin aku merasa gugup saat dekat dengannya? Ah tidak mungkin. Seketika itu aku pergi meninggalkannya. Saat itu juga ia... “Berhenti!” Hah? Apa aku tidak salah dengar? Ia memanggilku. Aku pun langsung menoleh padanya. “Aku minta maaf ya soal tadi, maaf aku nggak sengaja. Ohya, siapa namamu? Kita kan belum saling kenal.” sambil berjalan mendekatiku & mengulurkan tangannya. Aku pun sempat tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, ”Ehmm, a..aku..aku Fania kak. Anak kelas 8D. Iya..udah aku maafin kok kak. Udah ya kak, aku pergi dulu.” “Tunggu! Aku antar kamu ya? Yaa itung-itung sebagai permintaan maafku ini.”
Kami berdua pun berjalan bersamaan menuju kelasku. Oh My God, hari ini adalah hari yang berharga buatku. Aku yakin, dengan perkenalan ini...aku bisa lebih dekat dengannya. Aku yakin itu. Berulang kali aku tersenyum saat melihatnya, wajahnya itu..sungguh sulit untuk dilupakan dari pikiranku. Apa aku mulai menyukainya?
Sejak hari itu, sejak aku mulai mengenalnya sedikit demi sedikit. Kejadian itu yang membuat aku sama kak Bagas makin akrab. Tiap hari aku sering mengiriminya pesan sekedar untuk berbagi cerita, begitu juga sebaliknya. Rasanya senang sekali. Ia mewarnai hari-hariku dengan candaannya, sikapnya yang ramah pada semua orang terutama padaku. Sungguh, aku sangat tenang saat berada disampingnya. Apakah mungkin aku mulai menyukainya? Hari demi hari berlalu, waktu yang membuat kita semakin dekat.  Namun, kedekatanku selama ini padanya bukan tanpa suatu alasan. Tidak ada hubungan yang terikat diantara kita. Aku bukan pacarnya & ia bukan pacarku. Rasanya hubungan ini merasa gantung. Entah siapa yang menggantungnya. Aku pun tak pernah berpikir buruk padanya. Mungkin selama ini ia tahu kalau aku menyimpan rasa untuknya tapi...kenapa ia  tak tanyakan hal itu padaku? Apa mungkin ia tak menganggapku sebagai orang spesial di hatinya? Rasa penasaranku itu masih terus terbayang di hatiku.
Rasanya ada awan mendung yang menyelimuti hati ini. Dan berharap ada sedikit sinar matahari yang bisa mengusir awan mendung itu dari suasana hatiku. Suasana kelabu yang sedang aku alami saat ini. Aku menunggumu, kak. Menunggu kepastian yang akan kau berikan padaku. Dan...mungkin aku nggak bisa ketemu kamu lagi karena kamu udah mau lulus.
-----
Pagi ini kak Bagas mengajakku ke sebuah labirin taman. Iya sekalian sambil jogging pagi ini. Memang taman ini dibangun dengan konsep labirin mini & taman bunganya jadi menambah keindahan taman tersebut. Tak terasa waktu berjalan sekitar ½ jam. Aku pun mengajaknya beristirahat di tempat duduk di taman itu.
“Aku seneng banget deh kak hari ini, bisa jogging bareng sama kakak. Iyaa mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak.” kataku sambil menatap kak Bagas. Kak Bagas sontak bertanya-tanya apa maksud dari omonganku itu. “Apa maksud kamu, Fania?” mendengar itu...aku pun langsung tersenyum, “Kamu bentar lagi lulus kan kak? Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa sama kakak. Selebihnya aku nggak tau.”
“Fania, jangan sedih gitu dong. Selama ini...aku sebenernya sayang sama kamu. Jangan khawatir, kita masih bisa berhubungan kok.” mendengar perkataan darinya itu sontak membuat jantungku berdebar kencang, tak terkendali. Apa? Apa aku tak salah dengar? Apa yang ia katakan barusan? Sayang sama aku? Apa benar kalau ia selama ini menyayangiku? Saat itu juga pikiranku sempat melayang kemana-mana memikirkan hal itu. “Aku menyayangimu, Fania. Kamu udah aku nggap sebagai adikku sendiri. Jangan sedih ya.” jawabnya sambil tersenyum padaku. Sebagai adik? Adik katanya? Huhh, aku pikir ia akan menembakku hari ini. Aku pikir selama ini ia menganggapku sebagai orang yang spesial di hatinya. Tapi...ternyata ia cuma menganggapku sebagai adiknya. Perasaanku yang selama ini tumbuh selama berjalannya waktu, rasanya hari ini aku tidak bisa terima oleh takdir. Perasaanku yang tulus ini tidaklah dibalas olehnya. Aku pun segera menepis pikiran negatifku tentang perkataannya. Menjadi seorang adiknya...tidaklah buruk bukan?
“Tapi aku takut kak. Aku takut kehilangan kakak. Aku..aku juga menganggap kamu sebagai kakakku sendiri. Aku takut kalau kedepannya, kakak akan berubah sama aku. Kalau kakak udah SMA, pasti sibuk. Terus bakalan lupain aku.” jawabku. “Iya nggak lupa dek. Aku nggak mungkin lupa sama kamu, Fania. Pokoknya kakak janji, kakak akan berusaha membagi waktu luangku.” jawabnya sambil menenangkanku. Tapi meskipun begitu, masih ada rasa khawatir kak di dalam hatiku. “Fania? Kok diam sih? Udah dong jangan sedih lagi ya. Aku nggak suka kalau ngeliat kamu bersedih kayak gitu. Ayo senyum dong.” hiburnya padaku. Aku pun berusaha senyum dihadapannya, memberikan senyuman termanis untuknya & mungkin itu adalah senyuman terakhirku dihadapannya...tidaklah buruk bukan? Tapi sebenarnya, hati ini tidaklah bisa tersenyum manis, kak. Masih ada sedikit rasa khawatir.
Beberapa bulan kemudian...
Waktu terus berjalan hingga membawa aku ke masa depan. Sampai saat ini, aku masih ingat kenangan-kenangan indah bersamanya. Kak Bagas. Iya, cowok yang dulunya sempat membuatku penasaran itu. Komunikasi kita masih berjalan cukup baik. Tapi itu dulu. Semenjak 2 bulan lalu...ia tak pernah menelfonku sama sekali. Bahkan saat aku mengirim sms untuknya, tak kunjung ada balasan. Apa yang sedang terjadi padanya? Apa ia sakit? Apa ia sedang sibuk? Aku pun tetap berusaha untuk bisa berkomunikasi dengannya. Udah aku chat, mention di twitternya tapi tetap saja. Itu semua tak ada hasilnya. Hmm, hal ini yang membuat aku sedikit resah. Apa yang terjadi padamu, kakakku? Apa..kau sudah melupakanku? Apa..kau tak ingat pertemuan terakhir kita dulu, kak? Apa..kau juga tak ingat dengan aku? Kau dulu anggap aku sebagai adikmu, kak. Adik kesayanganmu, bukan? Tapi apa yang kau lakukan padaku saat ini? Rasa khawatirku dulu akhirnya kejadian. Rasa khawatir itu saat ini tumbuh menjadi rasa kecewa. Apa yang bisa aku lakukan saat ini, kakak? Apa..aku pernah berbuat kesalahan hingga kau tak pernah memberi tahu kabarmu. Aku hanya bisa menunggu, menunggu & menunggu. Menunggu akan kembalinya kau padaku. Kenapa sebuah pertemuan terkadang diakhiri dengan sebuah perpisahan? Kenapa? Apa...semua takdir manusia demikian? Mengalami pertemuan & perpisahan? Kak Bagas, andai kau dengar hatiku ini bertanya-tanya akan kabarmu padaku.
Kutuliskan semua isi hatiku ini pada selembar kertas warna pink. Semua orang menganggap bahwa semua kertas pink itu isinya adalah surat cinta tapi tidak denganku. Aku mengisinya dengan kekecewaanku pada salah satu orang yang aku sayangi selama ini. Iya...orang itu adalah kak Bagas. Sambil mendengarkan lagu “I will remember you” dari Sarah Mclachlan mungkin bisa mewakili isi hatiku ini padanya.
Memang aku tak pernah memilikimu. Hanya sebatas mengagumimu saja. Meskipun kau tahu, aku menyimpan rasa untukmu. Tapi kenapa? Kenapa kau tak pernah tanyakan itu padaku. Meskipun kau selalu bersikap begitu padaku. Berusaha baik didepanku, hanya untuk membuatku senang. Tapi.. ada satu hal yang selalu aku ingat darimu dulu. Sesuatu yang selalu aku ingat sampai sekarang adalah sesuatu yang pernah kau janjikan padaku. Ya..sebuah janji darimu. Janji untuk kembali padaku. Janji itu masih kuingat di lubuk hatiku, didalam raga ini. Meskipun engkau tak sadar akan hal ini.
KAKAK.. WILL YOU REMEMBER ME?
TAMAT